Utama
Gratispol UKT ditanggung gratispol ukt yang ditanggung gratispol daftar gratispol 2026 
Tak Ditanggung Penuh Gratispol, Samsudin Terpaksa Berhutang untuk Tutupi Kekurangan UKT Anaknya
SELASAR.CO, Samarinda - Program pendidikan Gratispol Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, yang digadang-gadang meringankan beban biaya kuliah, ternyata belum sepenuhnya menutup kebutuhan mahasiswa. Samsudin, orang tua mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan, mengaku harus berutang untuk menutup kekurangan uang kuliah tunggal UKT anaknya yang tidak tertutup sepenuhnya oleh program tersebut.
Anaknya, Nabila Ramadhani, mahasiswa Program Studi Teknik Logistik ITK angkatan 2025, menerima bantuan Gratispol sebesar Rp5 juta per semester. Namun UKT yang ditetapkan kampus berada di angka Rp9 juta per semester, sehingga keluarga harus menanggung selisih Rp4 juta.
“UKT anak saya Rp9 juta, yang dibayarkan Gratispol hanya Rp5 juta. Kekurangannya Rp4 juta itu terpaksa saya pinjam ke teman,” kata Samsudin kepada Selasar.co, pada hari ini Senin (9/2/2026).
Samsudin menjelaskan bahwa awalnya anaknya mengikuti seleksi masuk ITK melalui jalur prestasi namun tidak lolos, lalu diterima pada gelombang berikutnya di jurusan Teknik Logistik. Setelah diterima, anaknya mendaftar sebagai penerima Gratispol dengan mengisi data pendapatan orang tua dan melengkapi dokumen administrasi.
Berita Terkait
Beberapa waktu kemudian keluarga mendapat informasi bahwa UKT anaknya ditetapkan sebesar Rp9 juta. Padahal dalam laman resmi ITK tercantum beberapa kategori UKT, mulai dari Rp1 juta hingga Rp12 juta.
“Saya bingung siapa yang menentukan anak saya masuk di UKT Rp9 juta. Itu bukan kami yang memilih,” ujarnya.
Tagihan kekurangan UKT sebesar Rp4 juta muncul sekitar September 2025 pada semester pertama perkuliahan. Demi memastikan anaknya tetap bisa mengikuti perkuliahan, Samsudin akhirnya meminjam uang meski kondisi keuangan keluarga terbatas.
Samsudin merupakan pensiunan karyawan swasta di sektor perkebunan sawit sejak 2025. Saat ini ia masih menanggung biaya hidup anaknya di Balikpapan, termasuk kos sekitar Rp750 ribu per bulan serta kebutuhan bulanan sekitar Rp1,5 juta.
“Pendapatan setelah pensiun tidak seperti dulu, sementara adik-adiknya masih sekolah semua. Anak saya itu anak ketiga dari enam bersaudara; kakaknya sudah bekerja dan adiknya ada yang duduk di bangku SD dan SMP,” ucap pria 57 tahun tersebut.
Masalah ini kembali terulang saat memasuki semester kedua, ketika tagihan selisih UKT kembali muncul. Kondisi tersebut membuat keluarga khawatir tentang keberlanjutan pendidikan anaknya ke depan.
Samsudin berharap program pendidikan Gratispol benar-benar dapat meringankan beban masyarakat, terutama bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
“Harapan kami sebenarnya gratis penuh. Kalaupun tidak, setidaknya UKT-nya jangan terlalu tinggi. Kalau di angka satu atau dua juta mungkin masih sanggup,” ujarnya.
Ia juga berharap tidak ada lagi mahasiswa lain di Kalimantan Timur yang mengalami persoalan serupa akibat perbedaan besaran UKT dan cakupan bantuan Gratispol.
“Jangan sampai anak-anak lain putus kuliah karena orang tua mereka tidak sanggup menutup kekurangan biaya,” tutup Samsudin.
Penulis: Boy
Editor: Yoghy Irfan

