Lingkungan

manfaat mangrove cerita petambak ikan dan udang di sepatin tambak ikan sepatin ikan dan udang tambak mati 

Dulu Bingung Udang Sering Mati, Petambak Sepatin Ini Akhirnya Temukan Jawabannya



Asharudin, Ketua Pokmas Gemilang Sejahtera/Pengelola Tambak Udang dan Ikan. (selasar/yoghy)
Asharudin, Ketua Pokmas Gemilang Sejahtera/Pengelola Tambak Udang dan Ikan. (selasar/yoghy)

SELASAR.CO, Kukar - Kerimbunan mangrove yang selama puluhan tahun dianggap sekadar tanaman liar di pesisir, kini terbukti menjadi penentu keberhasilan panen udang dan ikan di tambak-tambak wilayah Delta Mahakam. Salah satu buktinya datang dari pengalaman Asharudin, Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Gemilang Sejahtera Abadi (GSA), pengelola tambak udang dan ikan di Desa Sepatin.

Asharudin mengaku sempat bertahun-tahun dibuat bingung oleh fenomena bibit udang yang kerap mati sebelum sempat dipanen. Persoalan itu baru terjawab setelah ia mengikuti program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), program yang diinisiasi oleh Kementerian Kehutanan.

"Sebulan dua bulan seringnya bibit yang ditebar itu teler, udangnya aja. Kalau ikannya jarang mau tumbuh. Saya dulu bingung itu sebabnya karena apa. Itu lah yang setelah saya belajar-belajar dan ikut M4CR ini, penyebabnya karena mangrove,” ujarnya kepada Selasar saat ditemui di areal tambaknya di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Kukar.

Akar Mangrove, Rumah bagi Plankton dan Penyerap Racun

Menurut Asharudin, akar mangrove yang tumbuh tinggi menjadi tempat berkembangnya plankton dalam jumlah besar. Kondisi ini menarik udang, kepiting, dan ikan untuk berlindung sekaligus mencari makan di sekitar akar tersebut. Fungsi lain yang tak kalah penting, akar mangrove mampu menyerap racun yang mengendap hingga kedalaman 20 sentimeter di dalam lumpur tambak.

Temuan itu diperkuat oleh pengalamannya semasa bekerja sebagai penyambang atau pengepul kepiting. Saat menyusuri kawasan bersama anak buahnya, ia mendapati pola yang konsisten, tambak dengan populasi mangrove lebat selalu menghasilkan panen lebih baik.
"Ternyata, panennya itu tiap 2 bulan sekali, sistem tanam bibit gitu. Itu tonasenya bisa 1 ton lebih, kadang 2 ton dalam 2 bulan," katanya.

Dari sisi nilai ekonomi, hasil penjualan udang dari tambak bermangrove tersebut disebutnya bisa menembus angka ratusan juta rupiah per periode panen.

Contoh Nyata di Kawasan Delta Mahakam

Asharudin menunjuk satu tambak seluas sekitar 40 hektare di kawasan Delta Mahakam sebagai model keberhasilan pengelolaan mangrove yang tertata. Tambak tersebut, menurutnya, menjadi satu-satunya contoh serupa yang ia temukan di kawasan Sepatin.

Ia membandingkannya dengan sejumlah proyek penanaman mangrove lain di wilayah yang sama yang pernah berjalan sebelumnya, namun tidak menunjukkan hasil signifikan. Sebaliknya, tambak pribadi miliknya yang juga ditumbuhi mangrove justru menunjukkan hasil nyata sebuah perbandingan yang menurutnya membuktikan korelasi langsung antara keberadaan mangrove dan produktivitas tambak.

"Nah, itu loh, kenapa dia ada hasilnya? Berarti dia membuktikan," ujarnya, merujuk pada perbandingan antara tambak yang berhasil dan yang tidak.

Pengalaman itu mendorongnya untuk memperluas penanaman mangrove di lahan tambak miliknya yang lain. Ia mengaku telah membeli ajir atau patok bambu untuk keperluan penanaman, dan kini tinggal menunggu proses perawatan bibit.

26 Tahun Jadi Petambak, Saksikan Perubahan Langsung

Asharudin telah menggeluti profesi sebagai petambak sejak tahun 2000, atau sekitar 26 tahun. Sepanjang waktu itu, ia mengaku menyaksikan sendiri perubahan signifikan yang dibawa oleh keberadaan mangrove di kawasan tambaknya.

Ia juga mengaitkan pengamatannya dengan pengalaman tetangganya, Haji Bakri, yang tambaknya dikenal selalu berhasil panen. Setelah ditelusuri, penyebabnya kembali mengerucut pada satu faktor yang sama: keberadaan mangrove sebagai satu-satunya vegetasi yang mampu bertahan dan memberi manfaat di lahan tambak tersebut.


Manajer M4CR Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Kaltim, Asman Aziz.

Libatkan 33 Kelompok hanya di Sepatin

Program rehabilitasi mangrove yang memadukan kegiatan ekonomi tambak dengan penghutanan kembali kawasan pesisir terus diperluas di wilayah Delta Mahakam, Kalimantan Timur. Program bernama Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) ini kini telah melibatkan puluhan kelompok masyarakat di empat desa Kecamatan Anggana, dengan potensi perputaran ekonomi mencapai miliaran rupiah per kelompok.

Manajer M4CR Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Kalimantan Timur, Asman Aziz, menjelaskan bahwa program ini tersebar di empat desa di Kecamatan Anggana, yakni Sepatin, Muara Pantuan, Tani Baru, dan Kutai Lama. Khusus di Desa Sepatin, sejak 2024 hingga 2026 tercatat sudah ada 33 kelompok yang terlibat dalam program tersebut.
"Saya kira sekitar 80 persen dari program ini ada di kawasan Delta Mahakam," ujar Asman.

Ia menambahkan, ke depan program juga akan diperluas ke sekitar 4.000 hektare di Cagar Alam Teluk Adang dan Teluk Apar, Kabupaten Paser, meski hingga kini konsentrasi program masih terpusat di Delta Mahakam, mencakup wilayah Muara Badak dan Muara Jawa.


Bibit Mangrove yang Ditanam di Tengah Tambak. (selasar/yoghy)

Padukan Ekonomi Tambak dan Rehabilitasi Mangrove

Menurut Asman, kunci keberhasilan program ini terletak pada skema yang memadukan aktivitas ekonomi tambak masyarakat dengan upaya rehabilitasi mangrove, dikenal dengan pola silvofishery. Dalam pola ini, kepadatan bibit mangrove yang ditanam relatif kecil dibanding standar rehabilitasi murni.

"Kalau kita bicara tentang pengkayaan untuk rehabilitasi mangrove, harusnya dalam satu hektare itu bisa sampai 10 ribu bibit. Yang kita gunakan di tambak itu hanya 800 batang," jelasnya. Dengan demikian, hanya sekitar 0,8 persen lahan tambak yang dialokasikan untuk kepentingan rehabilitasi mangrove, sementara 90 persen sisanya tetap digunakan untuk aktivitas ekonomi masyarakat.

Asman mengakui, sejumlah warga sempat skeptis lantaran manfaat mangrove yang ditanam baru akan terasa setelah pohon tumbuh besar. Namun ia menegaskan, manfaat mangrove terhadap tambak sudah bisa dirasakan dalam kurun satu hingga dua tahun, salah satunya sebagai filter alami yang menyaring limbah sebelum masuk ke kolam tambak.

Selain berfungsi sebagai filter alami, Asman menyebut mangrove juga menyerap karbon empat hingga lima kali lipat dibandingkan hutan yang ada di daratan.

Skema Pendanaan Berbasis Swakelola

Terkait pengelolaan anggaran, Asman menjelaskan bahwa program ini sebelumnya berada di bawah Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Setelah lembaga tersebut tidak dilanjutkan pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, program ini kini berada di bawah Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

Pendanaan program menggunakan skema swakelola tipe empat yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, bukan semata mencari keuntungan. Bibit yang ditanam diwajibkan berasal dari masyarakat setempat, dan setiap pekerjaan turut dihitung dalam skema Hari Orang Kerja (HOK) yang memberi nilai ekonomi bagi warga yang terlibat, termasuk dalam pembuatan ajir penanam bibit.

"Semua yang terlibat itu mendapatkan manfaat secara ekonomi karena mereka dibayar untuk melakukan itu juga," katanya.


Pengelola tambak ikan dan udang di Delta Mahakam saat bercerita soal manfaat mangrove di Mangrofest 2026. (selasar/yoghy)

Produktivitas Tambak Bermangrove Disebut Terus Meningkat

Asman menyoroti perbedaan tren produktivitas antara tambak yang ditinggalkan mangrovenya dengan yang tetap dipertahankan. Menurutnya, tambak yang dibuka dari kawasan hutan mangrove pada era 1990-an memang menunjukkan hasil bagus di masa awal, namun produktivitasnya cenderung menurun seiring waktu terutama setelah 10 tahun beroperasi. Kondisi ini disebut menjadi salah satu penyebab banyak tambak yang kini ditinggalkan pemiliknya.

Sebaliknya, kelompok yang menjalankan program rehabilitasi mangrove sejak awal tahun 2000-an melaporkan tren yang berbeda: hasil tambak mereka disebut terus meningkat setiap tahun. Asman mengaitkan hal ini dengan berkurangnya penggunaan pupuk kimia karena pakan alami sudah tersedia di ekosistem mangrove, dengan sekitar 55 persen biota laut yang terhubung dengan keberadaan mangrove.

Nilai Ekonomi Capai Miliaran Rupiah

Soal nilai ekonomi program, Asman mengaku tidak memiliki angka pasti karena besarannya bervariasi tergantung sejumlah faktor, termasuk luas lahan, jenis bibit atau propagul yang digunakan, serta penggunaan waring atau jaring pelindung tanaman.

Namun ia memastikan, nilai program untuk setiap kelompok tidak ada yang berada di bawah angka ratusan juta rupiah. "Nilainya pasti ratusan juta. Jadi tidak ada kelompok yang di bawah ratusan juta. Ratusan juta sampai miliaran, tergantung dari luasannya," ujarnya.

Selain kelompok penanam mangrove, program ini juga menyasar kelompok usaha kecil menengah (UMKM) yang umumnya digerakkan ibu rumah tangga, dengan skema insentif matching grant sebagai modal usaha. Pada batch pertama, nilai bantuan tersebut berkisar antara Rp50 juta hingga Rp120 juta, tergantung proposal yang diajukan masing-masing kelompok.

Program serupa juga diberikan kepada kelompok yang tidak mengikuti proses rehabilitasi namun telah lebih dulu menjaga kelestarian mangrove secara mandiri, termasuk kelompok berbasis ekowisata, dalam bentuk hibah tanpa skema dana bergulir.

Penulis: Redaksi Selasar
Editor: Yoghy Irfan

Berita Lainnya