Feature
Pertanian di tanah datar desa tanah datar kukar PT Pertamina EP Sangatta Field ECO-STEP CSR Pertamina di Kaltim CSR Pertamina di Kukar 
Perjalanan Kebun Choirul: Diterjang Banjir, Bangkit dengan Energi Terbarukan
Panen jeruk sebagaimana dibayangkan Choirul Munasikin tak pernah terjadi. Banjir datang pada 1997, ketika ia baru merintis kebun di Tanah Datar. Air menerjang, menyeret sebagian besar pohon jeruknya hingga berserakan di jalan. Peristiwa itu seolah ikut mengempaskan mimpinya sebagai perantau asal Jawa di Kalimantan. Namun, ia enggan menyerah.
Oleh: YOGHY IRFAN ARYA NEGARA
“Waktu itu saya baru-baru nanam jeruk. Pohon dan jeruknya larut ke jalan,” kenang Choirul. Ia masih ingat, di tengah kesedihan, harus memungut kembali tanaman dan buah yang porak-poranda disapu banjir.
Musibah itu menjadi satu dari sekian banyak ujian yang dilewati Choirul. Namun, pria berusia 49 tahun ini tidak pernah meninggalkan kebun. Saat cobaan datang, ia mencoba lagi. Ketika satu tanaman gagal, ia menjajal tanaman lain. Jika satu cara tidak berjalan, Choirul mencari jalan berbeda.
Kini, setelah hampir tiga dekade, lahan yang dulu menjadi tempatnya belajar menerima kegagalan telah berkembang menjadi kawasan pertanian aktif di Jalan Karya, RT 13, Dusun Selatan, Desa Tanah Datar, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Areal itu berbatasan dengan Kota Samarinda, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur. Dua bagiannya dipisahkan sungai alami. Pusat aktivitas pertanian tersebut, jaraknya hanya sekitar tiga kilometer dari kawasan Bandara APT Pranoto, Samarinda.
Cabai dan berbagai tanaman hortikultura tumbuh di kebun Choirul. Di antara tanaman-tanaman itu, panel surya berdiri. Matahari yang setiap hari menyinari kebun kini ikut menggerakkan pompa air, sistem hidroponik, hingga berbagai kebutuhan operasional pertanian.
Tetapi, sebelum kemudahan itu didapat, masalah pengairan selalu membelitnya. Air dalam bentuk banjir pernah menghancurkan tanamannya, air pula yang menjadi persoalan bertahun-tahun yang harus dicarikan solusinya oleh Choirul.
Jeruk Boleh Hanyut, Harapan Jangan Hilang
Choirul adalah seorang perantau. Ia berasal dari Malang, Jawa Timur. Orang tuanya petani serabutan. Sejak remaja, pikiran anak ketiga dari delapan bersaudara ini sudah dipenuhi keinginan untuk bekerja dan memperoleh penghasilan. Di kampung halaman, pilihan itu terbatas. Keluarganya tidak mempunyai lahan yang dapat digarap.
“Di Malang enggak punya lahan,” tuturnya.
Choirul kemudian berangkat ke Kalimantan Timur, mengikuti jejak budenya, Mastikan, yang lebih dulu merantau. Choirul bersekolah di SMP Negeri 1 Samarinda sambil membantu budenya berkebun. Tetapi, perjalanan hidup membawanya ke Sulawesi untuk melanjutkan pendidikan di STM (Sekolah Teknik Menengah).
Di sana, Choirul remaja bukan hanya belajar di sekolah. Ia bekerja di koperasi yang memasarkan komoditas pertanian dari Enrekang. Jeruk, cengkeh, dan kopi menjadi komoditas yang akrab dengannya. Pemasaran hasil bumi yang awalnya bergerak di sekitar Makassar, ia perluas hingga ke Jawa, antara lain Semarang dan Yogyakarta.
Dari pengalaman itu, Choirul menyadari, hasil kebun baru memiliki nilai ketika menemukan pasar.
Namun, usaha yang baru menancapkan fondasi itu mulai tergoncang ketika krisis keuangan melanda kawasan. Suasana pasar tempat Choirul bekerja di Sulawesi ikut berubah. Menurutnya, kondisi ketika itu semakin riuh dan kurang kondusif.
Perantau ini akhirnya memilih pergi. Bukan kembali ke kampung halaman, bukan pula mengejar kota yang lebih besar, melainkan mencari tempat yang menurutnya lebih tenang. Kalimantan Timur kembali menjadi tujuan.
“Ke sini lagi karena ada bude,” ujarnya.
Kembalinya Choirul ke Bumi Etam mengubah arah hidupnya.
Melihat kawasan tempat budenya tinggal, Choirul tidak menemukan banyak pilihan usaha. Pertanian dalam arti luas, yang penjualan komoditasnya pernah ia tekuni di Sulawesi, justru terlihat paling mungkin.
“Pas melihat potensi di sini, ya, cuma perkebunan,” katanya.
Choirul kemudian menanam jeruk, langsung dalam skala yang tidak kecil, sekitar lima hektare. Lahan itu ia pinjam dari budenya. Tetapi kebun itu belum sempat memberinya hasil seperti yang dibayangkan karena banjir datang.
Pohon-pohon jeruk hanyut. Harapan yang baru ditanam seolah ikut tersapu air. Tapi, Choirul memilih tidak pergi. Ia justru menanam kembali.
Mencari Tanaman, Mencari Jalan
Semangka menjadi salah satu tanaman yang kemudian dicoba Choirul. Kali ini persoalannya bukan air, melainkan uang yang lambat berputar. Bapak tiga anak ini mengatakan, tengkulak kala itu banyak mengambil hasil panen dengan sistem pembayaran belakangan. Semangka sudah keluar dari kebun, tetapi uang belum tentu langsung berada di tangan petani.
Sementara operasional kebun tidak sabar menunggu. Tenaga kerja harus dibayar. Tanah harus kembali diolah. Benih, pupuk, dan kebutuhan lain untuk masa tanam berikutnya membutuhkan modal.
“Perputarannya lambat. Mau nanam, buka lahan, nagih dulu. Ndak enak,” kata Choirul.
Ia lalu mulai memperhatikan komoditas lain. Bukan hanya bagaimana cara menanamnya, tetapi juga bagaimana hasilnya diperjualbelikan. Pilihannya kemudian jatuh pada sayuran dan hortikultura. Cabai menjadi salah satu yang ditekuni Choirul.
Suami Nurmalasari ini memulai dengan sekitar satu hektare lahan, ditanami cabai, tomat, dan sejumlah tanaman lainnya. Saat itu, petani hortikultura di kawasan tersebut belum banyak. Menurut Choirul, jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.
Aktivitasnya kemudian menarik perhatian instansi pertanian daerah. Dukungan datang dalam bentuk pupuk, obat-obatan pertanian, dan pendampingan. “Karena hitungan jari kan tanaman horti di sini,” ujarnya.
Lahan itu perlahan membesar. Kini sekitar empat hektare aktif dikelolanya. Cabai organik menjadi salah satu komoditas yang diandalkan. Dalam satu rangkaian produksi, hasilnya rata-rata dapat mencapai sekitar 800 kilogram dalam satu kali masa petik.
Namun, pertanian tidak pernah hanya soal menanam dan memanen. Semakin besar kebun, semakin besar pula kebutuhan yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah energi.
Ketika Air Bergantung Bensin
Sebelum panel surya berdiri di kebunnya, hampir setiap tetes air yang membasahi tanaman Choirul bergantung pada bensin. Pompa air, mesin semprot, pemupukan, mesin pengering cabai, hingga berbagai kebutuhan operasional digerakkan bahan bakar minyak. Listrik PLN yang tersedia di lokasi hanya berkapasitas 1.300 watt, jauh dari cukup untuk menopang sekujur lahan pertanian Choirul. Terlebih, setelah ia mulai merintis sistem hidroponik dan mengolah berbagai produk dari hasil serta limbah pertanian.
“Sehari itu bensin bisa keluar Rp100 ribu,” kenang Choirul.

Penampungan air di areal pertanian cabai milik Choirul. (selasar.co/yoghy)
Pun jika bahan bakar minyak itu tersedia. Persoalannya bukan sekadar harga. Ketersediaan bahan bakar dan larangan membeli bensin eceran menggunakan jeriken di SPBU membuat petani seperti Choirul harus memutar otak. Pengecer di sekitar desa pun dibatasi pasokannya.
Akibatnya, jadwal penyiraman yang seharusnya dilakukan seminggu sekali pada musim kemarau, atau dua minggu sekali ketika musim hujan, kerap molor. “Kadang sampai sebulan enggak disiram, nunggu dapat bensin,” ujarnya.
Tanaman yang mestinya tumbuh subur perlahan menunjukkan tanda stres. Daunnya layu. Pertumbuhannya kerdil.
Jika keterlambatan penyiraman masih dalam batas tertentu, hasil panen biasanya turun sekitar 20 persen. Namun ketika kemarau berkepanjangan datang, kerugian bisa membengkak hingga separuh hasil panen, bahkan berujung gagal panen.
“Air itu yang paling penting dalam pertanian,” kata Choirul.
Terdengar sederhana, tetapi di kebunnya, air tidak pernah benar-benar sesederhana itu. Air membutuhkan pompa. Sementara pompa membutuhkan energi. Dan energi membutuhkan bahan bakar yang tidak selalu mudah diperoleh.
Sampai kemudian, cara kebun itu mendapatkan energi berubah.
Saat Matahari Mulai Bekerja
Perubahan bukan bermula dari pengajuan proposal bantuan, melainkan kedatangan tim Community Development Officer (CDO) Pertamina EP Sangatta Field ke kebun Choirul. Mereka turun ke lapangan, melihat kondisi kebun dan mengamati persoalan yang selama ini dihadapi para petani. Choirul salah satunya.
“Mereka menemukan (mengidentifikasi) masalah di sini,” ujar Choirul.
Dari situlah muncul gagasan menghadirkan energi terbarukan.
Pada akhir 2025, instalasi panel surya mulai dipasang di lahan pertanian Tanah Datar sebagai bagian dari program CSR Pertamina EP Sangatta Field bertajuk ECO-STEP Semberah (Empowering Community through Organic Sustainable Farming Program in Semberah Area).
Energi yang dihasilkan tidak berhenti pada penerangan. Panel surya digunakan untuk menunjang pengairan, penyemprotan, hidroponik, hingga kebutuhan operasional lain di kawasan pertanian.
Sistem tersebut merupakan inovasi program Desa Energi Berdikari (DEB), berupa panel surya berkapasitas 20 kWh untuk kebutuhan penerangan dan sistem hidroponik yang beroperasi selama 24 jam.
Bagi Choirul, perubahan paling terasa bukan pada panel yang kini berdiri di kebunnya, melainkan pada air yang akhirnya bisa mengalir sesuai kebutuhan tanaman. Begitu instalasi rampung, listrik tersedia untuk menopang aktivitas pertanian tanpa lagi bergantung pada jeriken bensin dan antrean pengecer.
“Kebutuhan air tanaman jadi tepat waktu, hasil juga lumayan maksimal, enggak terhambat lagi kayak kemarin-kemarin,” tuturnya.
.png)
Panel surya yang menyuplai kebutuhan listrik di kawasan pertanian milik Choirul. (selasar.co/yoghy)
Dampaknya kemudian terlihat pada produktivitas. Produksi cabai yang sempat tersendat di kisaran 17–18 ton akibat keterlambatan penyiraman, kembali stabil di angka standarnya, yakni 20 ton per hektare.
Choirul kini mengelola 4 hektare lahan untuk tanaman hortikultura. Seluas 2,5 hektare miliknya sendiri, sisanya pinjam pakai. Sepanjang 2025, dalam satu musim tanam, lahan Choirul menghasilkan sekitar 15 hingga 17 ton tomat, 12 ton kembang kol, dan 8 ton cabai.
Turunnya biaya produksi juga membuka ruang bagi Choirul untuk menekan harga jual kepada masyarakat. Sebelumnya, ongkos bensin terus menggerus margin yang diperoleh dari hasil kebun.
Namun, bagi Choirul, dukungan tersebut bukan semata soal modal.
“Melihat kekurangan di sini, apa yang mau dikembangkan, selalu dibantu. Cuma bukan modal. Terutama di inovasi,” tuturnya.
Kini, teknologi membuat aktivitas kebun lebih efisien. Tetapi semakin besar kebun, semakin banyak pula pekerjaan yang muncul. Pekerjaan itulah yang kemudian membawa cerita ini kepada orang-orang yang tinggal di sekitar kebun.
Janati dan Kebun yang Membuka Pintu Rezeki
Sekitar 20 orang kini terlibat dalam aktivitas pertanian Choirul. Dua belas di antaranya perempuan dan delapan laki-laki. Choirul tidak mencari pekerja dengan ijazah tertentu atau pengalaman bertani.
Orang baru biasanya cukup diberi contoh satu atau dua kali. Setelah itu, pekerja lama ikut membantu mengajari. “Asal mereka mau bekerja, silakan,” katanya.
Pekerja di pertanian Choirul sebagian besar merupakan generasi kedua dari keluarga yang lebih dahulu bekerja bersamanya. “Yang tua-tua sudah pada istirahat, sekarang tinggal Bu Janati saja,” katanya.

Janati, pekerja buruh tani di Desa Tanah Datar, Kukar. (selasar.co/yoghy)
Dua bulan lagi, usia Janati genap 70 tahun. Nenek dari 15 cucu dan 5 cicit ini tidak perlu mengendarai sepeda motor untuk sampai ke kebun Choirul. Rumahnya bersebelahan dengan kawasan pertanian.
Pada hari ketika mendapat giliran bekerja, Janati cukup berjalan kaki. Sekitar pukul setengah delapan pagi ia sudah berada di antara tanaman. Menjelang setengah lima sore, barulah ia pulang.
Janati lahir di Sulawesi dan berasal dari keluarga Bugis. Ketujuh anaknya lahir di tempat ia kemudian menetap.
Pertanian sudah lama menjadi bagian dari hidupnya. Dahulu, suaminya bekerja sebagai petani. Setelah sang suami meninggal, Janati harus melanjutkan kehidupan dengan tenaganya sendiri.
“Kalau enggak kerja, mau makan apa?” katanya.
Di usianya yang senja, Janati mengaku bersyukur masih bisa memperoleh penghasilan sendiri. Tidak setiap hari ia bekerja. Ada hari ketika ia mendapat giliran, ada pula jeda dua atau tiga hari ketika tenaganya belum dibutuhkan.
Sistemnya harian, dengan upah Rp120 ribu per hari. “Alhamdulillah uangnya bisa dibuat untuk beli ikan, beli beras,” ujarnya.
Pekerjaan itu bahkan kemudian menjadi urusan keluarga. Dari tujuh anak Janati, Rusmawati (43) dan Nuhari (41) ikut bekerja di kebun yang sama. Menantunya, Nani (52), juga bergabung. Begitu pula Samsani (41), keponakannya.
“Anak, menantu, keponakan kerja semua. Ya, terus berjuang, daripada enggak ada kerjaan, enggak dapat apa-apa,” ucap Janati. Dalam lingkar keluarganya saja, sedikitnya lima orang, termasuk dirinya, mendapatkan ruang untuk bekerja dari aktivitas pertanian tersebut.
Bagi Choirul, semua itu bermula dari kebutuhan yang sederhana. Ada warga yang tidak mempunyai pekerjaan. Di sisi lain, kebun membutuhkan tenaga. “Akhirnya ayo kita kerjakan bareng-bareng,” ujarnya.
Choirul tidak mensyaratkan pekerjanya harus ber-KTP Kutai Kartanegara. Menurutnya, kasihan jika seseorang yang tinggal di sekitar kebun dan membutuhkan pekerjaan ditolak hanya karena KTP-nya Samarinda.
“Yang penting mereka tinggal di sini, silakan,” ujarnya.
Ia menghitung, sekitar sepuluh pekerja mampu menangani kurang lebih dua hektare lahan. Logikanya sederhana, jika tenaga bertambah dan lahan tersedia, areal tanam juga bisa diperluas.
“Umpama ketambahan tenaga, kita juga bisa berusaha menambah lahan,” katanya.
Dari Kebun Choirul, Program Terus Berkembang
Kisah Choirul menjadi salah satu bagian dari program pemberdayaan petani ECO-STEP Semberah yang digagas PT Pertamina EP Sangatta Field di Desa Tanah Datar.
Program tersebut lahir dari persoalan yang lebih besar: degradasi lahan akibat penggunaan input kimia berlebihan, sekaligus tingginya angka kemiskinan dan pengangguran di sektor informal.
Community Development Officer PT Pertamina EP Sangatta Field Lapangan Semberah, Dinatika Ummami, menerangkan, penggunaan pestisida dan pupuk secara berlebihan menjadi salah satu persoalan yang ingin diatasi melalui program tersebut.
“Kita masih sering sekali merasakan adanya degradasi lahan dikarenakan memang terlalu banyak input kimia. Banyak sekali pestisida, pupuk, dan sebagainya yang kita lakukan sebelum adanya intervensi program,” jelasnya.
Harga pupuk dan pestisida yang semakin mahal serta akses yang terbatas turut mendorong perlunya solusi alternatif. Di sisi lain, kawasan tersebut memiliki potensi lahan pertanian yang besar, khususnya budi daya cabai.
ECO-STEP Semberah juga tidak berdiri sendiri. Dinatika menjelaskan, Choirul sebelumnya merupakan mitra binaan Bank Indonesia sejak 2015 hingga 2020. Kini jumlah penerima manfaat aktif program mencapai 20 orang, meningkat dari sebelumnya 15 orang. Program juga mulai mendiversifikasi komoditas ke jagung, kembang kol, dan hidroponik.
Program tersebut meraih penghargaan internasional kategori bronze di ajang Global CSR & ESG Summit & Award di Thailand, setelah sebelumnya beberapa kali mendapat apresiasi melalui program Proper Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Namun penghargaan itu bukan berarti seluruh persoalan selesai.
Kemarau masih membawa kekeringan. Musim hujan masih membawa risiko banjir. Sistem filtrasi air sungai bahkan diajukan untuk membantu memenuhi kebutuhan irigasi ketika musim kering. Inovasi pertanian tetap dibutuhkan.
Penulis: Yoghy Irfan
Editor: Awan

