Feature

Patung Pesut jembatan mahakam pesut mahakam Azmir Azhari Monumen Bersejarah Landmark Samarinda 

Patung Pesut Bersejarah yang Telantar di Bawah Jembatan



Kondisi patung Pesut Mahakam saat ini
Kondisi patung Pesut Mahakam saat ini

Seni, kata sastrawan besar Rusia, Leo Tolstoy, bukanlah kerajinan tangan, melainkan transmisi perasaan yang dialami seniman. Maka tak heran jika perasaan Azmir Azhari terluka melihat patung pesut karyanya tercerabut dari pondasinya, dan dibiarkan teronggok kesepian di atas pipa-pipa besi di bawah Jembatan Mahakam IV yang ramai pengendara.

PESUT menghiasi logo Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda. Dua ekor pesut yang berhadap-hadapan, melambangkan koordinasi dan kerjasama yang dinamis antara eksekutif dan legislatif dalam melaksanakan pembangunan. Di dekat Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Jalan Gajah Mada, terdapat monumen pesut, yang semakin mengukuhkan mamalia lucu itu sebagai ikon Kota Tepian.

Namun, tahukah Anda? Selain patung pesut yang berada di depan Kantor Gubernur Kaltim, dulu juga ada monumen patung pesut lainnya, yang berlokasi berdampingan dengan Jembatan Mahakam Jalan Slamet Riyadi. Patung tersebut diresmikan oleh Soeharto, presiden kedua RI, pada 2 Agustus 1986 silam. Dilakukan bersamaan dengan diresmikannya Jembatan Mahakam.

Kini, patung pesut yang dahulu terlihat megah dan kokoh telah berubah 180 derajat. Patung yang membentuk dua ekor pesut mahakam ini telah diangkat dari pondasinya, karena berada di jalur pembangunan Jembatan Mahakam IV.

Patung pesut itu sekarang ditinggalkan begitu saja di atas sisa material pembangunan berupa pipa besi. Hanya beberapa lembar papan kayu yang digunakan sebagai alas duduk patung di atas tumpukan pipa. Warna patung juga tampak kusam, tanda telah lama tak dirawat. Ia seolah telantar.

Azmir Azhari adalah sosok di balik karya seni itu. Ia mengaku terkejut saat mengetahui kondisi salah satu patung karyanya. Pria kelahiran 1953 ini memang tidak menetap di Kaltim. Ia tinggal di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Jarak yang jauh membuatnya telah lama tidak mengetahui kondisi patung tersebut.

"Jadi saat itu saya sedang medata ulang karya-karya saya. Saya suruh anak saya untuk melihat patung yang saya buat di Kalimantan. Dan saya ketemu video berita STV soal kondisi patung pesut itu. Kaget dan sedih sekali melihat kondisi salah satu patung karya itu. Jika bisa digambarkan, dada saya seperti diremas begitu. Sejarah patung itu yang sangat berarti untuk saya," jelasnya kepada Selasar.

Ia pun berharap agar Pemerintah Kota Samarinda mau kembali memasang patung tersebut. Jika diperlukan, dirinya bersedia datang ke Kaltim membantu proses pemasangannya. "Patung itu masih bisa digunakan dengan dirakit kembali," imbuhnya.

SEJARAH PEMBUATAN PATUNG

Azmir bercerita, dahulu ia memiliki sebuah galeri patung di kawasan Ancol. Beberapa bulan sebelum dilakukannya peresmian Jembatan Mahakam pada 1986, ia didatangi oleh utusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim. Utusan Pemprov Kaltim ini datang menemuinya, atas perintah langsung dari Soewandi Roestam, Gubernur Kaltim ke-7 saat itu. Dalam pertemuan, ia diminta membuat patung yang akan menjadi ikon Kota Tepian.

Setelah menyetujui permintaan tersebut, pria kelahiran 1 Januari 1953 ini langsung bertolak ke Kaltim untuk melakukan survey lokasi. Menggunakan pesawat terbang, ia mendarat di Kota Minyak Balikpapan, kemudian dilanjutkan dengan perjalan darat ke Samarinda. Setibanya di Samarinda ia pun dibawa bertemu sang gubernur.

“Pak Gubernur waktu itu meminta saya membuat patung pesut, yang akan dijadikan ikon kota Samarinda,” jelasnya.

Setelah melakukan pertemuan dengan orang nomor satu di Kaltim, lulusan Fakultas Seni Rupa Jurusan Seni Patung STSRI Asri Yogyakarta ini kemudian langsung diajak melihat lokasi patung akan didirikan. Saat itu lokasinya sudah ditentukan, yaitu berdampingan dengan lokasi Jembatan Mahakam, yang saat itu masih dalam tahap pembangunan.

“Setelah itu saya langsung buat sketsanya, setelah disetujui saya kembali ke galeri saya di Jakarta untuk mulai membuat patung itu. Saat di Jakarta, saya mempelajari anatomi pesut di Gelanggang Samudra Ancol. Setelah mengetahui anatomi pesut ini baru saya mulai membangun patung itu, membutuhkan waktu sekitar 2 bulan untuk menyelesaikannya,” tutur Azmir.

Demi memudahkan proses pengiriman dari Jakarta ke Samarinda, bagian patung sengaja dibuat terpotong-potong. Saat itu patung pesut terbagi menjadi empat potongan, yaitu bagian kepala, badan bagian tengah, bawah, dan sebagian dari bagian pelengkap patung seperti bentuk gelombang air. Menggunakan jalur laut, membutuhkan waktu dua hari agar potongan patung tersebut tiba di Samarinda.

Tepian Sungai Mahakam yang saat itu masih berupa lumpur, menjadi salah satu hambatan proses pemindahan patung. Hal ini karena sulitnya akses jalan untuk alat berat. “Saya tidak begitu ingat tanggalnya kapan, tapi sepertinya waktu itu sekitar Maret-April 1986, patung itu tiba di Samarinda. Proses pemasangan baru dilakukan setelah dua hari setelah kedatangan patung. Total ada sembilan orang yang terlibat dalam pembuatan patung,” jelasnya.

WARGA ANTUSIAS

Selama proses pemasangan patung yang memakan waktu 20 hari, rasa antusias warga begitu besar saat itu. Azmir masih ingat betul banyak warga yang datang berkumpul, hanya untuk menyaksikan proses pemasangan patung tersebut. Rasa antusias pun tidak hanya datang dari warga Samarinda, namun juga daerah-daerah lainnya di sekitar Samarinda. Sebagai ucapan terima kasih, ia pun banyak menerima pemberian dari warga lokal, mulai dari barang hingga makanan.

“Antusias masyarakat saat itu seperti melihat sesuatu yang baru. Dari kampung-kampung keluar jadi ramai sekali. Setiap hari saat saya kerja itu ditonton orang. Bahkan ada juga orang-orang dari pedalaman di Kaltim juga datang, untuk melihat proses pembuatan patung ini. Bahkan ada seorang ibu-ibu yang berjualan di sekitar situ, ada yang membawakan makanan ke kami. Saya pun diberi banyak barang seperti mandau dan kerajinan manik-manik, sebagai cendera mata dan sebagai bentuk rasa terima kasih warga setempat,” ceritanya.

Patung itu terdiri dari dua ekor pesut yang bermain di atas landasan patung berbentuk air sungai yang bergelombang. Kedua pesut menggambarkan keindahan alam Samarinda, rasa suka-cita warga, dan keselarasan alam dan pembangunan kota Samarinda. Materi patung menggunakan semen dengan rangka besi.

“Saya lupa saat itu berapa nilainya, tapi jika dinilai dengan harga sekarang, pembuatan patung sebesar itu membutuhkan biaya sekitar Rp 800 juta,” pungkasnya.

Penulis: Yoghy Irfan
Editor: Awan

Berita Lainnya