Kolom

Pilkada Samarinda Lebih Seru Jika Ada Wajah Baru



Pilkada Samarinda Lebih Seru Jika Ada Wajah Baru
Awan, Pemimpin redaksi Selasar.co

Dua puluh tahun begini-begini saja. Bagaimana masa depan Samarinda? Mampukah pilkada kelak menghasilkan pemimpin yang menjadikan masa depan Kota Tepian cemerlang? Atau justru sebaliknya. Madesu. Masa depan suram.

Oleh: Awan

PEMILIHAN umum kepala daerah (pilkada) serentak makin dekat. Dijadwalkan Desember 2020. Meski masih bisa geser mundur, jika pandemi corona tak kunjung mereda. Meski demikian, pertunjukan politik para bakal calon kontestan mulai menarik perhatian. Lumayan jadi hiburan dari update angka corona yang bikin resah, meski sudah ada dokter Reisa.

Di Samarinda, empat pasang bakal calon sudah terang-terangan muncul ke ruang publik. Mereka adalah Andi Harun-Rusmadi, Barkati-Darlis Pattalongi, Zairin Zain-Sarwono, dan Parawansa Assoniwora-Markus Taruk Allo. Dua pasang pertama akan maju lewat partai politik. Dua lainnya melalui jalur independen.

Di luar itu, ada juga bakal calon lain yang belum menemukan pasangan. Ada Erwin Izharuddin, Apri Gunawan, Meiliana, Saefuddin Zuhri, Arief Kurniawan, Ridwan Tassa, Sukamto, Awan. Dua nama pertama paling berpeluang tetap fight. Sisanya tampak sudah layu sebelum berkembang. Nama terakhir hanya cameo.

Baliho para bakal calon pemimpin Samarinda.

AH-Rusmadi paling settle sejauh ini. Diberitakan, mereka didukung oleh PKS, PPP, PKB, Hanura, dan Gerindra tentunya. Dan dengar-dengar, Nasdem. Jumlah kursi gabungan partai-partai itu sudah 23, jauh melebihi syarat pendaftaran di KPU yang hanya 9 kursi. Kursi yang tersisa tinggal 22, milik PDIP 8, Golkar 5, Demokrat 5, dan PAN 4.

Mungkin AH masih mengincar satu atau dua partai pemilik kursi itu untuk gabung di gerbongnya. Namun, bisa jadi tidak mudah. Ada pasangan lain, wajah baru, yang rasanya menarik bagi partai-partai yang belum menentukan gacoan itu. Erwin Izharuddin-Apri Gunawan. Dua-duanya pengusaha muda sukses asli Samarinda. Satu bidang migas, satunya perkebunan. Keduanya merangkak dari bawah. Erwin pernah jadi sales, Apri jadi mekanik.

Barkati-Darlis memang sudah memamerkan surat dukungan dari PAN. Tapi itu tidak cukup untuk maju. PDIP pemilik 8 kursi paling santer dicitrakan oleh Siswadi mendukung pasangan ini. Siswadi Ketua DPC PDIP Samarinda sekaligus Ketua DPRD Samarinda kemana-mana bareng Barkati. Merekalah sebetulnya pasangan sejati hiyahiyahiyaa.

SK dari PAN masih mungkin berganti nama. Apalagi, Ketua DPD PDIP Kaltim Safaruddin sudah terbuka di media bahwa partainya mendorong nama Erwin-Apri ke DPP. Erwin-Apri, bukan Apri-Erwin. Pertimbangan logistik dan kematangan menjadi argumen penguat formasi unik itu. PAN seharusnya tergiur dengan “tawaran” rendah hati dari PDIP tersebut.

Belum lagi kedekatan Apri dengan Irwan Fecho, politikus Demokrat yang sedang moncer. Bukan tidak mungkin, Demokrat menyatu dengan koalisi PAN-PDIP jika Erwin-Apri benar-benar diusung. Tinggal Golkar. Beringin tua harus menentukan pilihan ke AH-Rusmadi atau Erwin-Apri, atau bikin poros sendiri (meski ini agak berat).

Bagaimana Barkati-Darlis? Agak unik memang, Barkati sebagai petahana, kesulitan mencari perahu. Boleh jadi karena perahu-perahu terlalu sering digunakan saat Samarinda calap alias banjir, sehingga semakin langka. Atau mungkin karena sejauh ini Barkati belum menunjukkan prestasi. Tapi, rasanya bukan sebab itu. Pak Syaharie Jaang yang minim prestasi saja dipilih terus sejak tahun 2005. Mungkin faktor nasib, hehee.

Saya membayangkan, pertarungan pilkada 2020 nanti akan sangat seru. Dua pasang dari parpol (yang sama-sama kuat) dan satu independen (yang juga tangguh). Independen yang dimaksud adalah Zairin-Sarwono. Pasangan Parawansa-Markus sebetulnya punya daya tarik. Sama seperti Erwin-Apri, keduanya relatif baru.

Mengapa kebaruan ini penting?  Dua puluh tahun Samarinda dipimpin orang-orang lama dengan segudang pengalaman birokrasi dan politik. Hasilnya ternyata mengecewakan. Tentu, harapan terhadap pemimpin baru dengan inovasi dan terobosan baru akan mengemuka.

Banjir menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang tak kunjung selesai.

Parawansa-Markus bisa menawarkan itu, tapi saya tidak yakin mereka akan lolos di verifikasi KPU, karena selisih data yang minim antara yang diterima KPU (44.756) dengan batas minimal dukungan terverifikasi (43.977). Meski, saya tetap berharap mereka lolos, karena akan membuat persaingan lebih seru.

Demikianlah, AH-Rusmadi dan Zairin-Sarwono bisa menawarkan pengalaman. Sementara Erwin-Apri menawarkan kebaruan. AH dan Sarwono belasan tahun menjadi anggota dewan, satu di DPRD Kaltim, satunya di DPRD Samarinda. Rusmadi dan Zairin itu seolah dilahirkan menjadi birokrat sejati. Dua-duanya pernah jadi kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kaltim.

Sedangkan pasangan muda Erwin-Apri, mereka tak punya pengalaman di pemerintahan, tetapi punya segudang asam garam sebagai profesional dan organisatoris. Pengalaman itu bisa digunakan untuk mendobrak gaya-gaya lama kepemimpinan di Samarinda.

Waktu masih panjang. Pergerakan dukungan masih sangat dinamis. Jangan menganggap apa-apa yang tampak sekarang ini sudah final. Keputusan terkait kontestasi politik bisa berubah pada injury time. Ingat Pak Mahfud MD yang sudah disuruh memakai kemeja putih? Meski akhirnya prank itu happy ending.

“Rakyat nikmati saja pertunjukan politik ini sambil rebahan, kemudian lihat apa yang akan terjadi. Itu!” Mario Waluh.

*) Penulis adalah pemimpin redaksi Selasar.co dan Direktur STV

pilwali-2020 pilkada wali-kota-samarinda 

Berita Lainnya